Nasihat sepanjang zaman

Barangsiapa merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah, maka dia kaya.

Barangsiapa suka memandang harta orang lain, dia akan mati miskin.

Barangsiapa tidak redha (tidak rela) dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya, maka dia telah menentang keputusanNya (qadha’Nya)

Barangsiapa memandang remeh kesalahannya, maka dia akan memandang besar kesalahan orang lain.

Barangsiapa memandang besar kesalahannya, maka dia akan memandang remeh kesalahan orang lain.

Barangsiapa membuka aib orang lain, maka aib keturunannya akan tersingkap.

Barangsiapa menggali lubang untuk mencelakakan saudaranya, maka dia sendiri akan terjerumus ke dalamnya.

Barangsiapa bergaul dengan ulama, maka dia akan dimuliakan.

Barangsiapa memasuki tempat-tempat biasa dikunjungi orang-orang bodoh, maka dia akan direndahkan.

Dan barangsiapa memasuki tempat-tempat kemaksiatan, maka dia akan dituduh berbuat maksiat.

Antara kerendahan hati dan kesombongan diri

Musthafa Assibai berkata: Setengah pintar yang disertai tawadhu (rendah hati) lebih disenangi oleh hati manusia dan lebih bermanfaat bagi masyarakat dibandingkan dengan kecerdasan dan kepandaian yang tinggi yang disertai dengan kesombongan.

Ibadat dalam diam-diam

Dirawayatkan dari Nabi s.aw:

Apabila sudah hari kiamat,  maka datanglah suatu kaum yang bersayap seperti sayapnya burung dan mereka terbang diatas dinding-dinding syurga.

Penjaga syurga bertanya kepada mereka:  Siapakah kamu sekelian?

Mereka menjawab: Kami semua adalah dari umat Nabi Muhammad s.a.w.

Penjaga syurga bertanya: Apakah kamu mengetahui hisab?

Mereka menjawab:  Tidak

Kemudian penjaga syurga bertanya lagi:  Apakah kamu tahu titian (siraathal mustaqim)?

Mereka menjawab:  Tidak

Penjaga syurga bertanya lagi: Dengan apa kamu mendapat darjat yang tinggi ini?

Mereka menjawab: Kami telah beribadat kepada Allah dengan cara diam-diam di dunia, maka kami dimasukkan ke dalam syurga di akhirat dengan diam-diam juga.

(Zabdatul Waa’izdiina)

Tentang Kebaikan Bhg. 2

Kebaikan di dunia dibangun atas dasar taqwa. Keimanan adalah senjata dan taqwa adalah pelurunya. Iman adalah penjaga dan pelindung bagi seorang mukmin dan taqwa menambah keimanan dan mengukuhkannya.

Kita dapat meluluhkan hati musuh dengan doa, sikap dan perilaku kita yang merupakan cerminan dari ibadah yang benar. Senjata kita adalah amal kebaikan dan doa.

Salah satu alasan orang menyukai diri kita ialah peribadi indah yang gemar berbuat kebaikan serta sopan-santun, lembut, dan peramah kepada setiap orang.

Sabar dan Syukur

Barangsiapa dalam urusan keduniaan memandang kepada orang-orang yang lebih rendah, dan dalam urusan agama memandang kepada yang lebih tinggi, maka dia tergolong bersama orang-orang yang sabar dan bersyukur.

Doa dari Al-Quran #19

Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatMu yang Engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai;  dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku.  Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadaMu).

(Al -Ahqaf [46] : 15)

Kata Imam Ghazali rah.a…

Dalam Al-Ihya menulis: Dalam diri manusia terdapat 4 sifat:

  1. sabiyah (kebuasan)
  2. bahimiyah (kebinatangan)
  3. Syaithaniyah (kesyaitanan)
  4. Rabbaniyah (ketuhanan)

Jika sifat rabbaniyahnya berhasil mengalahkan dan  mengendalikan ketiga sifat yang lain, maka akan timbul sifat-sifat yang baik seperti:

  • menjaga kehormatan diri (iffah)
  • cukup dengan apa yang ada (qanaah)
  • tenang
  • zuhud
  • wara’
  • takwa
  • malu
  • jujur
  • berani
  • dermawan
  • sabar
  • suka menolong
  • tahan menderita
  • suka memaafkan
  • teguh pendirian
  • mulia
  • pandai
  • selalu ceria (senyum)

dan sebagainya.